( December, 19th 2022)
Senyumku mengembang sesaat melihat namamu terlihat online di
beranda sosial mediaku. Sesaat aku ingin menyapamu sekedar mengetik kata ‘hai.
Namun aku sadar, aku bukan siapa-siapa untukmu. Aku hanyalah seseorang yang
pernah menaruh hati padamu bahkan hingga saat ini. Yang tanpa sadar duniaku
dipenuhi olehmu. Kamu tidak menyadari bahkan mungkin kamu tidak pernah tau
siapa aku. Kamu duniaku, bahagiamu itu bahagiaku dan sedihmu itu adalah
milikku. Aku membuka lebar pintu hati hanya untukmu, meski aku tau di hatimu
tak ada ruang untukku. Aku bahkan pernah meminta kepada Tuhan untuk
menghadirkanmu di dalam mimpiku dan Tuhan pun menjawabnya. Malam itu tidak tau
kenapa aku gelisah namun aku memaksakan kedua mataku untuk segera tidur. Tak
berselang lama setelah aku tidur, aku memimpikan dirimu hadir. Dimana kita
bertemu untuk pertama kalinya setelah kita lama tidak bertemu. Aku bahkan tidak
menyadari itu dirimu karena dalam mimpi itu aku bertemu dengan teman baikmu dan
posisinya aku memunggungimu. Namun sesaat teman baikmu mengatakan bahwa dirimu
ada disana. Aku tidak bisa mengendalikan ekspresi bahagiaku namun sebisa
mungkin aku berusaha bersikap layaknya teman. Engkau tersenyum sangat tulus
kepadaku dan mengulurkan tangan yang selama ini aku harapkan dapat aku genggam.
Aku menyambut uluran tanganmu dan kita saling berjabat tangan. Untuk saat ini
izinkan aku menikmati moment langka ini. Izinkan aku untuk menggenggam tangan
itu lebih lama. Izinkan aku hingga menjadi wanita paling bahgia di muka bumi
ini.
Tidak bisakah ini menjadi nyata?
Apakah aku masih bisa berharap?
Bertemu dirimu walau hanya sesaat di dalam mimpi merupakan
suatu kebahagiaan yang tidak bisa aku gambarkan dengan kata-kata. Terima kasih
Tuhan walau hanya dalam mimpi namun aku sangat bahagia. Mimpi indah itu
dipatahkan dengan kenyataan bahwa kamu sudah memiliki seseorang yang sudah kamu
putuskan untuk menjadi pendampingmu. Beberapa kali aku melihat postinganmu
bersama dengan dia, entah kenapa membuat hatiku sakit dan patah telalu dalam. Setelah
itu aku putuskan tak akan lagi berangan menulis skenario bahagia denganmu.
Izinkan aku berhenti untuk mengagumimu bahkan untuk menghapus segala rasa ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar